Jalan-Jalan ke Baturaden

Liburan akhir Desember 2015 ini kami ke Baturaden, wisata alam yang terletak di lereng gunung Slamet, Banyumas, sebelah utara kota Purwokerto.

Perjalanan ke Baturaden sekitar 5 jam dari Yogyakarta. Sampai di sana menjelang sore dan gerimis. Masuk dengan tiket 14 ribu. Cukup terjangkau untuk mendapatkan pemandangan indah. Di depan pintu masuk, dipasang peta Baturaden dan patung punokawan.

image

Kami masuk ke lokasi wisata. Tergelar pemandangan hijau membentang yang sangat indah, dengan lokasi yang naik turun. Pancuran yg terletak di bawah mencuri perhatian kami. Di taman tertulis “Welcome to Baturaden”.

image

image

Jembatan penghubung yang di bawahnya tergelar sungai jernih dan air terjun juga menjadi pemandangan indah.

image

image

Habis bermain air terjun yang bening dan dingin, kami makan jagung bakar yang banyak dijual di lokasi wisata.

image

Di sepanjang area wisata banyak penjual makanan. Kami pun berhenti sejenak menyantap sate ayam, sate kelinci, mendoan panas, dan wedang jahe.

image

Kami pun keluar dari lokasi wisata pukul 17.30 dan melanjutkan agenda mencari hotel untuk menginap. Beberapa orang menawarkan penginapan di jalan-jalan dengan harga 300an ribu per kamar. Namun, kami memilih hotel Moro Seneng dengan beberapa pertimbangan: sekamar bisa untuk 4 orang, ada kolam renang, dan view yang bagus.

Catatan kami selama di Baturaden: tidak banyak minimarket, di malam hari juga tidak banyak penjual makanan.

Pagi hari habis sarapan, kami berkemas melanjutkan perjalanan ke aquarium raksasa di Purbalingga.

Selamat bersenang-senang …..

JALAN-JALAN KE PERKEBUNAN TEH TAMBI

Perkebunan teh Tambi Dieng menjadi tujuan liburan tahun ini. Berangkat dari Yogyakarta Kamis, 23 Juni 2015 pagi sekitar jam 07.30. Setelah sempat mampir-mampir cari sarapan, isi bensin, cari makanan kecil, jalan-jalan di kota Wonosobo, dan sebagainya, sekitar jam 12.00 kami sampai di homestay Agrowisata Tambi. Disambut karyawan yang ramah, kami pun memesan 1 kamar untuk 4 orang. Paket kamar di homestay ini macam-macam. Ada yang untuk 2 orang, 3 orang, 4 orang, atau rombongan. Dengan fasilitas makan pagi dan makan malam, serta paket tour ke perkebunan dan pabrik teh, harga homestay ini sebenarnya sangat terjangkau. Hanya saja karena masih masa lebaran, harga sewa homestay naik 50%.

Homestay Tambi ini recomended untuk disewa. Selain bersih dan rapi, homestay ini menawarkan pemandangan yang luar biasa. Penuh taman, air terjun, kolam, dengan pemandangan gunung dan pemukiman di lerengnya yang sangat indah.

DSC_0275

recepsionist dan ruang makan homestay tambi

DSC_0041

homestay tambi

DSC_0043

homestay tambi

DSC_0045

gunung sindoro dari ruang makan homestay tambi

DSC_0014

teko dan cangkir teh raksasa

Setelah istirahat sebentar dan sholat, kami melakukan perjalanan menuju Dieng sampai malam sekitar jam 19.00. Sengaja mengepaskan waktu makan malam di homestay. Dengan menu sederhana tapi rasa yang tak sederhana, kami makan dengan lahap, apalagi hawa dingin mulai terasa. Menu makan malam saat itu sop, pecel, ayam goreng, dan kerupuk yang disajikan dengan prasmanan. Tidak lupa ada jeruk sebagai buahnya. Habis makan malam kami menuju kamar. Mandi (tak usah khawatir dinginnya karena ada air hangat), salat, ngaji, ngobrol sama anak-anak, hingga tertidur.

Pukul 07.00 kami harus sampai di ruang makan untuk minum teh dan melahap snack tradisional (pisang goreng dan mendoan). Dalam perjalanan ke ruang makan, kami sempat foto-foto dulu. Pagi dengan sinar matahari membuat pemandangan semakin indah saja.

DSC_0078

secangkir teh tambi

Usai minum teh, kami bersiap untuk tour ke perkebunan teh dengan pemandu Pak Puji yang sangat ramah dan baik. Kami jalan kaki melewati sebuah pintu kecil di belakang homestay. Begitu pintu dibuka. Wooouuwwww, perkebunan teh yang luas dan hijau dengan pemandangan gunung Sindoro telah membentang, juga perempuan-perempuan pemetik teh. Pintu itu bagai pintu ajaib.

DSC_0094

hamparan perkebunan teh dari pintu ajaib homestay tambi

Pemetik teh di perkebunan itu ada 800-an orang yang dibagi dalam tim-tim. Beberapa kali selama di homestay kami mendengar suara sirine. Ternyata itu adalah sirine bagi para pemetik teh.  Pemandu menerangkan bagaimana cara memetik daun teh. Lumayan rumit. Jadi tahu mengapa pemetik teh banyak perempuan. Karena memetik teh butuh ketelatenan. Hasil petikan daun teh tidak boleh lama-lama dibiarkan (maksimal 5 jam) dan harus segera diproses di pabrik. Perawatan tanaman teh pun lumayan rumit. Harus telaten juga. Semua ada ilmunya.

DSC_0102

tour perkebunan teh tambi

DSC_0175

perkebunan teh tambi

Dari perkebunan teh, kami diajak ke pabrik pembuatan teh. Pabrik tampak sederhana tapi bersih. Kami masuk ke dalam pabrik dan masuk ke dalam setiap ruangan yang menunjukkan adanya tahapan proses pembuatan teh. Kami melihat dari luar ruang kaca. Selain diterangkan tentang proses pembuatan teh, kami juga diberi tahu cara membedakan teh yang baik dan tidak baik kualitasnya, serta cara minum teh yang benar.

DSC_0247

mendengar penjelasan cara memilih teh yang berkualitas baik di pabrik

DSC_0260

negara tujuan ekspor teh tambi

Saya tidak bisa menulis semuanya di sini. Tapi mendengar penjelasan pemandu, kami jadi sangat menghargai teh di Indonesia. Kami pun kembali ke homestay dan sarapan. Hawa dingin pagi dan perjalanan yang cukup panjang membuat menu nasi goreng, mie, nugget, telur dadar, dan kerupuk menjadi sangat nikmat untuk disantap. Di sebelah ruang makan ada minimarket. Kita dapat beli oleh-oleh teh tambi, carica, dan oleh-oleh lain khas Dieng di situ.

Kami kembali ke kamar untuk mandi, istirahat sebentar, dan bersiap pulang. Kami check out jam 11.00. Berharap bisa ikut sholat Jumat di masjid agung Wonosobo, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta.

Sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya ……

VARIABEL KETULUSAN UNTUK MENJEMPUT JODOH

#Ramadhan ke-9

Mencari jodoh, bagi beberapa wanita menjadi proses yang sangat rumit. Pertimbangan keluarga, lingkungan, mungkin juga karir, profesi, dan cita-cita adalah variabel kompleks yang tidak mudah diurai.

Ada mereka yang mampu mengambil keputusan dengan semua variabel yang ada, dan mantap dengan keputusannya. Ada pula yang bahkan hingga hari H masih bimbang dengan pilihannya. Ada juga yang setelah bertahun-tahun menikah masih saja belum move on dan terus mempermasalahkan benar atau tidak pilihannya.

Bagi yang baru akan menikah, sebagian masih bertanya-tanya hingga beberapa lamaran datang tidak ada yang disambut. Masalah bukan pada sang pria pelamar, tetapi karena si wanita belum tuntas mengurai variabel-variabel kompleksnya.

Di antara beberapa variabel kompleks tersebut, ada satu variabel yang sering tidak terpikirkan, yaitu variabel ketulusan. Bisa jadi ada orang-orang yang memenuhi banyak kriteria secara tampilan fisik, status sosial, maupun pendapatan. Tapi apabila yang bersangkutan miskin ketulusan, jangan banyak berharap hidup penuh kebahagiaan, karena bisa jadi semua kelebihan itu akan ‘menyerang’ balik menjadi tuntutan-tuntutan dan tekanan-tekanan. Sebaliknya, bermodal ketulusan yang melimpah, setiap keterbatasan dapat dikembangkan, setiap permasalahan lebih mudah diatasi, dan cinta tumbuh lebih subur di taman keikhlasan.

Tapi tentu saja, sebelum mendapatkan seseorang yg penuh dengan ketulusan, kita sendiri juga harus menyediakan ketulusan yang melimpah. Karena konon, orang-orang tulus mudah saling mengenali, karena hati mereka saling beresonansi. Wallahu alam bish shawab.

26.06.2015
Kusmarwanti Noe

MERAWAT CITA-CITA ANAK

#Ramadhan ke-8

Ada banyak alasan anak memilih cita-citanya. Pengaruh orang tua seringkali menjadi faktor penting, entah itu profesi orang tua atau kemauan orang tua. Seseorang berminat menjadi dosen karena orang tuanya mengarahkannya dan menginginkannya menjadi dosen juga. Seseorang menjadi pengusaha karena orang tuanya mengarahkannya dan menginginkannya menjadi pengusaha juga.

Namun, bukan hanya itu. Cita-cita anak kadang ditentukan oleh kondisi orang tua yang membuatnya ingin melakukan sesuatu. Inspirasi anak muncul seiring dengan apa yang dia rasakan dan dia ingin lakukan untuk orang tuanya.

Suatu hari saya berkunjung ke rumah teman yang pernah menderita kanker payudara. Alhamdulillah, sekarang beliau sudah baik setelah operasi dilakukan beberapa tahun yang lalu. Kanker membuat beliau harus sering berinteraksi dengan dokter. Kata-kata “dokter” dan “rumah sakit” pun selalu jadi isu penting di rumahnya. Apalagi sampai saat ini beliau masih harus cek rutin ke dokter.

Beliau menduga interaksi dengan dokter ini membuat putranya bercita-cita menjadi dokter juga. Saya kira sangat beralasan. Seorang anak yang menyaksikan ibunya harus antri panjang untuk bertemu dokter, melakukan pemeriksaan ini itu di rumah sakit, mendapatkan tindakan (operasi misalnya) yang menyakitkan, dan sebagainya pasti akan memunculkan bekas. Salah satu bekas itu adalah cita-cita menjadi dokter, yang akan dipandangnya sebagai pahlawan penyelamat ibunya.

Tugas orang tua adalah merawat cita-cita anak. Memberinya dukungan, memberinya inspirasi dan motivasi, memberinya tantangan sampai anak bisa mewujudkan cita-citanya. Tapi, jika suatu saat tiba-tiba anak-anak berbelok dan memilih cita-cita lain, tak usahkah kita sedih. Bukankah anak-anak bisa berubah cita-cita dalam hitungan bulan bahkan minggu? Itu karena anak punya pengalaman dan imajinasi yang terus berkembang.

Sekali lagi, tugas orang tua adalah merawat cita-citanya.

25.06.2015
Kusmarwanti Noe

PERKOKOHLAH BAHTERAMU, KARENA SAMUDRA ITU DALAM

# Ramadhan ke-7

Rasulullah pernah berpesan pada Abu Dzar tentang tiga hal. Kata Rasul, “Wahai Abu Dzar, perkokohlah bahteramu, karena samudra itu dalam. Perbanyaklah bekalmu karena perjalanan itu panjang. Ikhlaskanlah amalmu, karena pengintaimu sangat jeli.”

Pertama, perkokohlah bahteramu karena samudra itu dalam. Dalamnya samudra itu mengandung resiko. Jika tenggelam, kita bisa mati. Samudra yang dalam itu juga penuh rahasia. Kita tidak pernah tahu ada apa saja di dalamnya. Karang yang besar atau ikan yang buas, sewaktu-waktu bisa mencelakai kita. Karena itu, pengarung samudra yang dalam memerlukan bahtera yang kuat, yang bisa melindungi penumpangnya dari resiko tersebut.

Inilah analogi hidup manusia. Hidup manusia di dunia ibarat hidup di tengah samudra yang dalam tersebut. Mempersiapkan bahtera yang kuat berarti mempersiapkan segala hal yang bisa membuatnya bertahan dan mudah mencapai tujuan hidupnya, yaitu akhirat. Tanpa persiapan itu semua, kita mudah jatuh dan tenggelam. Jika Allah memberinya kesempatan hidup, maka ia bisa bertaubat dan memperbaiki dirinya. Namun, jika Allah memutuskan akhir hidup, maka penyesalan yang akan didapatkannya.

Kedua, perbanyaklah bekalmu karena perjalanan itu panjang. Selain dalam, samudra itu luas sehingga kita perlu waktu yang lama untuk mengarunginya. Karena perlu waktu yang lama, kita perlu mempersiapkan fisik yang kuat. Sakit dan lemah di tengah samudra tentu tidak pernah kita harapkan. Kita juga perlu motivasi dan semangat yang kuat, serta melengkapinya dengan kesabaran yang akan membuatnya tetap bertahan di tengah samudra. Tanpa bekal itu semua, kita bisa berhenti dan terapung-apung di tengah samudra yang semakin menjauhkannya dari tujuan perjalanan. Dalam hidup, bekal terbaik manusia adalah taqwa sebagaimana firman-Nya, “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa” (Q.S. al-Baqarah 197).

Ketiga, ikhlaskan amalmu karena pengintaimu sangat jeli. Seorang pengintai tidak pernah melewatkan sedetik pun kesempatan untuk menemukan kelemahan musuhnya. Jika pengintai ini adalah setan yang sewaktu-waktu bisa melencengkan jalan kita, maka nasihat terbaik adalah mengikhlaskan amal. Mengikhlaskan amal berarti menjaga diri agar Allah menjadi satu-satunya motivasi hidup kita. Kita bekerja keras mencari nafkah karena Allah. Kita berbuat baik dengan sesama karena Allah. Bahkan, kita tersenyum juga karena Allah. Semakin kita memahami ikhlas ini, maka semakin kita memahami mengapa kita melakukan yang terbaik dalam hidup ini. Wallahu alam bish shawab.

24.06.2015
Kusmarwanti Noe

“AWAS NANTI AYAH MARAH”

# Ramadhan ke-6

Suatu hari dalam satu acara saya melihat seorang anak kecil mengotak-atik laptop. Pencet sana pencet sini. Sesekali tertawa melihat gambar-gambar yang berganti-ganti. Sang ibu yang melihatnya sangat khawatir karena komputer itu menyimpan banyak data penting. Ia pun berulang kali menegurnya, “Awas Dek, Ayah nanti marah lho.”

Saya yakin kita sering menyaksikan kejadian semacam itu. Bahkan, mungkin kita pernah menjadi salah satu pelakunya. Namun, tiba-tiba saya menemukan banyak hal janggal dari pesan kata-kata itu. Apa hubungan pencet-pencet laptop dengan kemarahan ayah? Benarkah ayah akan marah? Mungkinkah sebenarnya yang akan marah ibunya tapi mengatasnamakan ayahnya? Mengapa ayah marah?

Tampak sepele dan tidak penting. Tapi tiba-tiba saya merasa ini penting karena terkait dengan fokus otak anak pada kata yang diungkapkan berulang-ulang. Ketika seorang ibu mengatakan, “Ayah nanti marah, lho!”, maka yang ditangkap anak adalah kata “marah”. Jika anak tidak bisa menangkap pesan dengan baik, ia akan berpikiran bahwa otak-atik laptop identik dengan kemarahan sang ayah. Sang ayah yang sebenarnya mungkin hanya dijadikan “tokoh fiktif” pun menjadi tidak baik kesannya di benak anak. Seakan ayah adalah tukang marah.

Ini persis seperti kisah seorang teman saya yang tidak pernah mau belajar setir mobil karena sejak kecil setiap kali mendekati mobil ayahnya, ibunya bilang, “Awas tergores. Nanti ayahmu marah!” Sampai sekarang setiap kali mau belajar setir, dia membayangkan wajah ayahnya yang marah tengah duduk di kursi depan.

Memberi pesan pada anak dengan ancaman menjadi terkesan transaksional: jika kamu tidak mau ayah marah, maka jangan main laptop. Untuk menghentikan anak bermain laptop mungkin akan berhasil. Namun, ini tidak akan memacu anak untuk tahu ada apa di balik laptop itu.

Lalu, kata apa yang tepat untuk menghadapi anak-anak yang main laptop? Mari kita diskusikan.

23.06.2015
Kusmarwanti Noe

ANAK-ANAK KITA TAK KECIL LAGI

# ramadhan ke-5#

Berawal dari sebuah candaan di group whatsapp wali murid sebuah sekolah. Ibu-ibu bercanda untuk saling berbesan. Seorang ibu bilang anak-anak kita nih masih cilik menthik alias masih kecil banget. Betul juga, anak-anak kita masih baru mau lulus SD. Tapi ada yang menggelitik dari celetukan seorang ibu, “Setiap ibu selalu merasa anaknya masih cilik menthik, walaupun kelak sudah dewasa.”

Inipun saya rasakan. Belum lama saya mengobrol berdua dengan anak saya tentang sebuah permasalahan. Saya sangat khawatir anak saya tidak bisa menyelesaikannya dan mengganggu belajarnya. Tapi di luar dugaan, anak saya bilang, “Bunda, aku tuh sudah besar. Aku bisa menyelesaikan masalah seperti itu.”

Di lain hari ketika saya tanya apakah temanmu yang ini masih suka menangis kalau ada masalah. Dia bilang, “Bunda, teman-temanku tuh sudah besar, nggak suka begitu-begitu lagi.”

Kata-kata “aku tuh sudah besar” seakan memberi isyarat bahwa anak kita sudah berubah. Ibarat orang berjalan, kita sering tidak sadar bahwa anak-anak kita sudah bergeser jauh dari tempatnya berdiri. Ketidaksadaran itu membuat kita merasa bahwa anak-anak masih seperti yang dulu sehingga kita memperlakukannya dengan cara yang sama seperti ketika mereka masih kecil dulu. Padahal, keterampilan anak selalu berkembang, pengalaman anak pun selalu bertambah. Mempercayainya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar, mengambil keputusan terhadap apa yang akan mereka lakukan, dan memberinya tanggung jawab akan membuat mereka semakin dewasa. Tentu dengan pendampingan dan pengarahan orang tua.

21.06.2015
Kusmarwanti Noe